Bikin Cargo Village, Solusi APII Atasi Kelebihan Penampungan Kargo

Bikin Cargo Village, Solusi APII Atasi Kelebihan Penampungan Kargo

PT Angkasa Pura Kargo akan segera membuat cargo village (kampung kargo) untuk mengatasi masalah kelebihan kapasitas penampungan kargo. Proyek tersebut akan ditenderkan untuk para investor mulai Februari 2017 mendatang.

Dalam keterangannya, Direktur AP II, Muhammad Awaluddin mengatakan bahwa terdapat 2 macam tender dalam proyek ini, yang pertama adalah pembangunan infrastruktur yang beserta fasilitas seperti gudang maupun Pusat Logistik Berikat dengan target dimulai bulan April atau Mei 2017. Sedangkan yang kedua adalah tender untuk terminal kargo sebagai operatornya akan dilakukan pada Februari 2017.

“Tender untuk terminal kargo akan dibuka untuk operatornya pada Februari 2017, kalau infrastruktur dan fasilitasnya diperkirakan paling cepat April atau Mei, nanti selesainya bersamaan,” ujar Awaluddin dilansir dari detikFinance.

Fasilitas Kampung Kargo dibangun untuk mendukung Bandara Soekarno-Hatta sebagai salah satu pusat distribusi atau international hub cargo. Nantinya terminal kargo bisa membuka kesempatan bagi investor asing karena membutuhkan sistem yang terintegrasi dengan jaringan global untuk jalur distribusi internasional.

Dalam pernyataannya, Awaluddin menambahkan, “Tender infrastruktur dan operator memungkinkan AP II bekerja sama dengan pemain terminal operator kargo yang sudah ada di luar karena melihat pengalaman dan pemahaman mereka dalam mengelola transportasi udara besar . Tapi kalau tender untuk infrastruktur itu pasti lokal yang bangun warehouse dan fasilitasnya.”

Untuk proses pembuatan infrastruktur pendukung, APII akan membuka kesempatan bagi investor lokal seperti Wijaya Karya, Waskita Karya, dan lainnya.

Untuk gudang atau PLB nantinya dapat memfasilitasi ekspor dan impor alat elektronik, produk berteknologi digital, hingga peralatan maintenance peralatan pesawat. Kecuali pengiriman produk consumer goods tidak bisa singgah di PLB ini karena akan menambah biaya yang besar.

“Kami melihat peluang di dalam cargo village ada PLB. Alat-alat teknis komponen ICT termasuk transport MRO seperti Garuda itu banyak perangkat teknis engineering dan alat-alat yang di situ langsung dikirim dari luar nantinya bisa masuk. Termasuk orang-orang mau ekspor seperti perangkat elektornik dan digital tekknologi. Namun kalau logistiknya consumer goods, barang-barang itu kapasitasnya nggak terlalu besar tidak bisa karena ini logistik yang relates dah bisa support transportasi udara,” imbuhnya.

Write a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.