pelindo-iii

Demi Keamanan, Kapal Laut Dilarang Berlayar di Perairan Filipina

Demi keamanan dan keselamatan, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Banjarmasin, Kalimantan Selatan, telah mengeluarkan surat edaran tentang larangan bagi kapal yang berlayar dari Banjarmasin menuju perairan Filiphina.

Dilansir dari beritatrans, Kepala KSOP Banjarmasin, M Takwin Masuku, Selasa (19/4/2016), mengatakan, “Surat edaran larangan berlayar tersebut berdasarkan pada kejadian pembajakan kapal yang terjadi di perairan Filipina yang mengakibatkan tersanderanya warga Kalimantan Selatan.”

Menurut Takwin, kejadian pembajakan kapal itu terjadi pada Kapal Tunda Brahma 12 dan Kapal Tongkang Anand 12 yang berlayar dari Banjarmasin ke Filipina pada 15 Maret 2016. Kemudian disusul pembajakan terhadap Kapal Tunda Henry dan Kapal Tongkang Cristi yang berlayar dari Filipina ke Tarakan pada 15 April 2016. Dari kedua pembajakan itu, semua anak buah kapal disandera, 10 WNI pada pembajakan kapal pertama disandera oleh kelompok Abu Sayyaf.

Surat larangan tersebut juga berdasarkan perintah elektronik dari Direktur KPLP dan saran dari Pangkalan Utama TNI AL XIII/Tarakan, di Kalimantan Utara.

“Berdasarkan kejadian tersebut, untuk sementara waktu kapal-kapal yang akan berlayar menuju Filipina, terutama untuk tujuan perairan barat Tawi-Tawi dan perairan Laut Sulu, dilarang sampai kondisi aman,” kata Takwin.

Dengan adanya surat edaran larangan berlayar tersebut, dapat mencegah adanya korban pembajakan yang diduga dilakukan oleh kelompok Abu Sayyaf seperti yang terjadi sebelumnya.

Menurut Nahkoda Kapal Oceanus 201, Alit Rukmana, beliau mengatakan dengan adanya larangan tersebut akan membawa dampak yang baik bagi sektor pelayaran. Dan berharap pemerintah bisa lebih agresif bernegosiasi dengan kelompok Abu Sayyaf.

Alit Rukmana mengatakan sebenarnya pembajakan dan penyanderaaan sering terjadi di perairan tersebut, namun tidak sebesar tahun ini. Intensitas pembajakan baru mengalami peningkatan tahun ini, dengan menyandera banyak orang. Jika sebelumnya yang disandera hanya satu dua orang.

Alit Rukmana juga bercerita, pernah ada rekannya yang disandera, dan satu tahun kemudian dia kembali ke daerah dengan kondisi yang memprihatinkan.

“Saya perhatikan, kondisi teman saya yang dibebaskan dari sandera, beberapa tahun lalu sangat memprihatinkan, seperti terkena gangguan mental, akibat sering ditekan,” katanya.

Dia berharap, pemerintah bisa segera membebaskan seluruh rekan-rekannya, yang kini sedang dalam penyanderaan, karena kasihan terhadap penderitaan keluarga yang disandera, maupun korbannya.

Write a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.