perum-airnav-indonesia

Gantikan VOR, Airnav Pasang ILS di Bandara

Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI) atau yang biasa dikenal dengan AirNav Indonesia akan melakukan pemasangan navigasi pendaratan yaitu Instrumen Landing System (ILS) di 13 Bandara Indonesia.

Dari data yang diperoleh, 8 bandara melakukan penggantian dari VOR ke ILS, sementara 5 bandara lain untuk pertama kalinya dipasang ILS. Kelima bandara yang dipasang ILS adalah Bandara Sultan Thaha di Jambi, Bandara Raden Inten II di Lampung, Bandara Saumlaki di Saumlaki, Bandara Samarinda Baru di Samarinda dan Bandara Langgur di Langgur.

Sedangkan 8 bandara yang melakukan pergantian ILS adalah Bandara Adi Sumarmo di Solo, Bandara Sepinggan di Balikpapan, Bandara Frans Kasiepo di Biak, Bandara El Tari di Kupang, Bandara Sultan Syarif Kasim II di Pekanbaru, Bandara Sultan Mahmud Badarudin II di Palembang, Bandara Soekarno Hatta di Jakarta dan Bandara Supadio di Pontianak.

Menurut Direktur Utama AirNav Indonesia Bambang Tjahjono, bahwa pemasangan ILS ini merupakan langkah AirNav untuk meningkatkan layanan navigasi penerbangan kepada pengguna jasa dan masyarakat. “Seiring dengan pertumbuhan dunia penerbangan, maka AirNav memasang ILS di sejumlah bandara yang memenuhi ketentuan dan persyaratan untuk dipasang ILS,” ujar Bambang Tjahjono seperti dilansir dari beritatrans.

Perlu diketahui kalau 5 bandara yang dipasang ILS baru saat ini masih menggunakan VOR maupun NDB. Instrument Landing System (ILS) adalah peralatan navigasi yang berfungsi untuk memberikan informasi mengenai arah kepada pilot pada saat mendekati landasan (runway) dengan tingkat ketelitian yang tinggi. Dengan adanya migrasi dari VOR maupun NDB ke ILS, maka jarak pandang minimum yang dibutuhkan untuk melakukan pendaratan akan lebih rendah.

Dijelaskan oleh Bambang, saat pesawat akan melakukan pendaratan, ada jarak pandang minimum yang ditetapkan. Bila VOR dan NDB mensyaratkan jarak pandang yang lebih tinggi yaitu di atas 1.500 meter, maka ILS mensyaratkan jarak pandang yang lebih rendah, biasanya di kisaran 800 meter. Jika ada gangguan asap seperti akhir-akhir ini, maka pesawat masih bisa melakukan pendaratan yang aman, dengan ketentuan jarak pandang masih di atas batas minimum.

Airnav menargetkan 13 bandara tersebut sudah terpasang ILS semua pada tahun depan. Sementara itu Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Suprasetyo menyatakan, dengan pemasangan ILS maka gangguan penerbangan akibat kabut asap seperti yang terjadi saat ini dapat diminimalkan. “Jika jarak pandang 1.200 meter, bandara yang masih menggunakan VOR ataupun NDB bisa dipastikan pesawat tidak dapat melakukan pendaratan. Tapi kalau sudah ada ILS maka bisa melakukan pendaratan,” ujar Suprasetyo.

 

beritatrans

Write a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.