Industri Kerajinan Jadi Andalan Hadapi MEA
Industri kerajinan dinilai mampu menjadi andalan sebagai basis produksi utama dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).
Namun, hingga saat ini usaha kerajinan (craft) masih membutuhkan peningkatan ekspor. Dari data Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia (AMKRI) menyebutkan, pada 2015 lalu nilai ekspor craft dan furnitur secara nasional mencapai USD 2 miliar, mengalami sedikit kenaikan dibandingan tahun 2014 yang mencapai USD 1,3 miliar. Berbeda dengan negara ASEAN lainnya seperti Vietnam yang mampu mencapai USD 4 miliar.
Dilansir dari Harianjogja Selasa(16/2/2016), Ketua AMKRI DIY, Heru Prasetyo mengatakan : “Pada catatan nilai ekspor kerajinan 2015, produk kerajinan hanya menyumbang sekitar USD 800 juta saja.”
Rencananya, pada tahun ini AMKRI menargetkan peningkatan nilai ekspor hingga USD 5 miliar. Untuk mencapai target ini tentunya butuh perjuangan keras dan kerjasama antara perajin, stakeholder, termasuk pemerintah daerah. “Kami sudah mengambil langkah-langkah seperti menyiapkan program yang bisa mendorong tercapainya target tersebut,” kata Heru lebih lanjut.
Heru juga mengakui, para pengusaha dan pengrajin produk kerajinan di daerah termasuk Sleman, ingin sektor kerajinan tumbuh lebih kencang. Salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah dengan merubah mindset tentang nilai jual produk.
Konsumen lokal saat ini masih menilai produk kerajinan daerah sebagai barang yang bernilai jual murah atau rendah. Ketika produk itu dibeli konsumen dari luar negeri, nilai jualnya meningkat lebih mahal hingga lima kali lipat dengan finishing ulang.
“Pandangan tersebut keliru dan harus diubah supaya tidak merugikan pengrajin daerah. Kuncinya terletak pada upaya menciptakan good design, good product, dan good market,” ucap Heru.
Write a Comment