lighthouse

Memperingati Hari Menara Suar

Menara Suar atau Lighthouse telah dikenal sejak abad III sebelum masehi ketika kekaisaran Kerajaan Mesir, Alexander Agung, membangun menara suar untuk pertama kalinya di Pharos Alexandria. Pharos Lighthouse yang pada masa itu masih menggunakan suar api menjalankan fungsinya sebagai pengawal keselamatan pelayaran hingga berabad-abad dan masih berfungsi serta terpelihara baik hingga saat ini.

Sejak saat itu, menara suar didirikan di sejumlah lokasi di berbagai belahan dunia. Sedangkan di Indonesia, menara suar pertama dibangun oleh pemerintahan kolonial Belanda pada abad XIX untuk keperluan navigasi kapal-kapal Belanda yang ketika itu banyak keluar masuk Indonesia. Breueh Lighthouse atau yang kini dikenal Menara Suar Pulau Beras di Utara Pulau Weh, Aceh, tercatat sebagai landmark menara suar pertama dan tertua di Indonesia.

Kisah singkat di atas menunjukan bahwa Menara Suar memiliki sejarah panjang dalam menciptakan keselamatan pelayaran baik nasional maupun internasional. Meskipun di era modern seperti sekarang ini alat-alat navigasi pelayaran telah berkembang ke arah elektrifikasi dan digitalisasi, tetapi eksistensi Menara Suar sebagai Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP) tetap tidak bisa tergantikan. Terutama bagi kapal-kapal dan perahu nelayan kecil yang tidak memiliki fasilitas alat-alat navigasi elektronik seperti radio atau alat navigasi canggih lainnya.

Dengan melihat sinar cahaya terang yang terpancar dari Menara Suar, mereka bisa mengarahkan kapal dan perahunya ke situ untuk berlindung saat badai menerjang. Bahkan kapal-kapal besar yang dilengkapi oleh alat-alat navigasi super canggih pun tidak bisa mengabaikan cahaya terang dari Menara Suar, apalagi ketika semua alat-alat canggihnya tidak berfungsi dengan baik atau rusak.

Sikap heroik para penjaga Menara Suar pun telah banyak dikisahkan, terutama di internal mereka sendiri. Kondisi alam yang keras bahkan terisolir nun jauh di tengah pulau terpencil tidak membuat para penjaga Menara Suar ciut menjalankan tugas.

Hampir seluruh Menara Suar di Indonesia yang jumlahnya sekitar 278 buah, berlokasi di pulau-pulau terpencil di tengah lautan luas. Untuk bertugas di Menara-Menara Suar terpencil membutuhkan tekad dan keberanian luar biasa. Menara Suar Cimiring yang berdekatan dengan Pulau Nusakambangan, Jawa Tengah misalnya, adalah salah satu Menara Suar yang berlokasi di satu pulau terpencil yang ekstrim.

Dari bibir pantai, untuk sampai ke lokasi Mercu Suar Cimiring membutuhkan waktu antara 1,5 hingga 2 jam perjalanan kaki menembus hutan lebat dengan meyusuri jalan setapak dengan kemiringan sekitar 45 derajat. Alat transportasi yang ada untuk mencapai Menara Suar Cimiring hanyalah kuda. Itu pun hanya bisa untuk mengangkut barang-barang bawaan. Sementara orangnya tetap harus mengandalkan kekuatan kaki.

Beratnya kehidupan yang harus jalani oleh para penjaga Menara Suar sampai rela berjauhan dengan keluarga, anak, dan istri dalam waktu lama sudah selayaknya mendapat apresiasi yang pantas dari seluruh lapisan masyarakat, khususnya masyarakat maritim di Indonesia dan di dunia.

Makanya tidak berlebihan ketika ada sebagian masyarakat di negeri ini yang berkeinginan agar ada hari khusus yang diperingati sebagai tanda penghargaan dan apresiasi terhadap SBNP, khususnya Menara Suar beserta para penjaganya yang memiliki nilai sejarah dan heroik itu.
Mereka tidak kenal menyerah dan lelah menjaga cahaya Menara Suar agar tetap terang dan menerangi para pelaut. Menara Suar pun selalu berdiri gagah dan kokoh menghadang terpaan badai laut terganas sekalipun. Maka, Ayo, Peringati Hari Menara Suar!

 

 

beitatrans

Write a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.