MRO-Facility

PT Bintan Aviation Investment Bangun Industri MRO di Kepri

Indonesia saat ini sedang mengembangkan kawasan industri maintenance, repair and overhaul (MRO) atau perawatan pesawat terintegrasi yang terletak di Pulau Bintan, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Untuk mengembangkan industri ini, PT Bintan Aviation Investment siap membangun proyek yang bernama Bintan Airport & Aerospace Industry Park dengan luas lahan kawasan bandara 800 hektare (ha) dan kawasan industri 510 ha. Kawasan bandara tersebut nantinya dapat menangani bisnis penerbangan umum, fasilitas MRO, dan pusat logistik.

Direktur Utama Bintan Aviation Investments Frans Gunara mengatakan, ”Panjang landasan pacu bandara ini mencapai 3.000 meter dan bisa didarati pesawat berbadan lebar sehingga maskapai nasional dan internasional dapat melakukan pemeliharaan pesawat di sini.”

Frans melanjutkan, selain membangun landasan, saat ini pihaknya tengah melakukan pembangunan fase pertama yaitu terminal penumpang dan kawasan industri.

Ke depannya di kawasan ini juga akan dibangun pelabuhan laut (offshore marine center), pembangkit listrik, kawasan bisnis komersial dan pemukiman. Dermaga digunakan untuk pengangkutan produk dari dan ke kawasan industri serta menjadi dermaga feri yang terkoneksi dengan terminal feri Tanah Merah Singapura. ”Khusus penyediaan energi, saat ini telah dibangun pembangkit listrik bertenaga batu bara 21 MW dan rencananya akan ditambah pembangkit 2×15 MW,” imbuh Frans.

Sebelumnya, pada 2012 lalu, Bintan Investment sudah melakukan peletakan batu pertama (groundbreaking) di Bandara Bintan. Kemudian pada tahun 2015 lalu dibangun runway, taxiway, apron , fasilitas MRO dan terminal. Direncanakan pada 2018 Bandara Bintan sudah bisa dibuka dan beroperasi.

Menurutu Managing Director Bintan Investment, Michael Wudy mengatakan, ”Kami juga akan mendirikan politeknik khusus MRO untuk mendukung penyediaan dan peningkatan kapasitas SDM kita. Terdapat tiga pelatihan yaitu aircraft maintenance basic training , aircraft maintenance type training dan specific training.”

Di lain kesempatan, Menteri Perindustrian Saleh Husin mengatakan, “Industri MRO di Indonesia akan terus tumbuh seiring kebutuhan transportasi dan mobilitas antarwilayah serta dunia. Peluang tersebut harus dimanfaatkan oleh perusahaan perawatan pesawat untuk terus meningkatkan penyediaan fasilitas yang diimbangi sumber daya manusia yang mumpuni.”

”Selama ini, Indonesia hanya mampu merawat 30 persen pesawat yang beroperasi di sini, sedangkan sisanya melakukan perawatan di MRO luar negeri. Dengan peningkatan fasilitas MRO di dalam negeri, kita bisa tarik yang 70 persen ini ke bengkel pesawat kita sendiri.

Senada dengannya, Ketua Dewan Pimpinan Indonesia Aircraft Maintenance Services Association (IAMSA) Richard Budihardianto mengatakan, “Perusahaan MRO di luar negeri terus meningkatkan kapasitas dan penyediaan fasilitas. Menurutnya, peluang bisnis MRO didapat dari anggaran pemeliharaan setiap maskapai yang sedikitnya USD1 miliar atau sekitar Rp13,2 triliun per tahun.”

”Dengan kenaikan jumlah penumpang rata-rata di atas 15 persen per tahun, maka industri MRO nasional harus dapat meningkatkan kapasitas dan kapabilitas. Jika tidak, maka pihak asing yang akan mengambil peluang bisnis tersebut” ujar Richard.

Seiring bisnis penerbangan yang tumbuh, IAMSA memperkirakan, Indonesia akan membutuhkan 12.000-15.000 tenaga ahli hingga 15 tahun ke depan. ”Pendirian politeknik, termasuk mengubah politeknik umum menjadi fokus ke teknik dirgantara menjadi upaya menyiasati pemenuhan kebutuhan ini,” imbuh Richard.

Write a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.