maritim-indonesia

Setiap Tahun Indonesia Rugi 500 Juta Dolar Dari Laut

Indonesia kehilangan pendapatan sebesar USD500 juta per tahun dalam kegiatan ekspor-impor di laut. Atas dasar itulah wacana Boyond Cabotage digulirkan untuk mengembalikan pendapat tersebut.

Rencananya, asas Beyond Cabotage akan efektif diberlakukan pada tahun 2018 mendatang. Organisasi pemilik kapal atau Indonesia National Shipowners Association (INSA) ditunjuk pemerintah untuk membuat road map terkait beyond cabotage.

Ketua Pelaksana tugas sementara (Plts) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) INSA Dr Hamka menjelaskan, Beyond Cabotage adalah kegiatan angkutan ekspor dan impor yang diprioritaskan menggunakan kapal berbendera Merah Putih dan dikerjakan oleh awak berkebangsaan Indonesia.

“Dengan azas ini seluruh muatan dalam negeri wajib diangkut oleh kapal-kapal Indonesia. Dengan demikian potensi pendapat sebesar USD 500 Juta per tahun akan diperoleh,” kata Hamka di sela-sela dialog interaktif dengan tema “Kesiapan Infrastruktur Pelabuhan menghadapi Beyond Cabotage di Surabaya.

Ia juga mengatakan, dengan beyond Cabotage artinya, Indonesia menjadi aktor utama dalam arus ekspor-Impor di jalur laut. Selama ini banyak kapal-kapal asing yang menggarap wilayah tersebut sehingga Indonesia kehilangan pendapatan yang cukup besar.

“Kita sekarang ini hanya mampu meraup 10 persen dari kegiatan ekspor-impor di laut. seharusnya angka itu bisa kita maksimalkan kalau kita menjadi aktor di negeri sendiri,” ujarnya.

Hamkan menambahkan, Road Map yang disusun oleh INSA ini, kata Hamka adalah mensinergikan seluruh elemen untuk bergerak memperkuat jalur laut mulai dari Lembaga Keuangan, Kemaritiman, Perhubugan, Perbankan menjadi sinkron.

“Tahun 2016 nanti INSA akan membuat Road Map dan saat ini masih menggali sejumlah steakholder di bidang laut. Dan Azas Beyond Cabotage ini akan diberlakukan pada tahun 2018 mendatang,” katanya.

 

 

okezone

Write a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.