Usulan Pasang Garis Kejut di Tol Cipularang
Akibat terbakarnya sebuah bus pariwisata Berdikari, dengan Nompol B 7839, WB, terbakar di km 110 Tol Purbalenyi arah Jakarta, Minggu (13/9/2015). Kepadatan hingga di km 123 tol Padalarang. Demikian tulis PT Jasa Marga dalam twitternya. Hingga pukul 17.31 WIB, waktu setempat, penanganan bus yang naas itu baru selesai dilakukan pihak Jasa Marga.
Kawasan ruas tol Cipularang yang rawan kecelakaan adalah sepanjang kilometer 90 sampai dengan kilometer 100, dimana sepanjang 10 kilometer tersebut, arus dari arah Jakarta mengalami tanjakan panjang dan arus sebaliknya mengalami turunan panjang.
Di dalam 10 kilometer tersebut, setiap tanjakan panjang dan curam terdapat penambahan lajur untuk truk dan bus yang berjalan lambat.
Menurut, Ir. Jodi Firmansyah, MSE., Ph.D., pakar rekayasa struktur khusus jalan dan jembatan Institut Teknologi Bandung (ITB), perlunya dipasang garis kejut pada beberapa titik yang dinilai rawan kecelakaan, seperti Km 90-100 jalur Bandung– Jakarta maupun Jakarta–Bandung.
Disarankan juga supaya pihak pengelola menambah rambu-rambu, sehingga pengguna jalan akan mendapat kemudahan.
Lalu, upaya apa yang harus ditempuh supaya frekuensi terjadinya kecelakaan di ruang jalan tol dengan pemandangan paling indah se-indonesia itu bisa diminimilisasi ?
Menurut Noviar, Direktur Eksekutif Indonesia Toll Road and Transportation Watch (IntoTransWatch), faktor penyebab kecelakaan berulang di beberapa titik ruas tol Cipularang harus dilihat dengan cermat. Antara lain menyangkut tingkat kedisiplinan pengguna jalan tol dan kondisi kendaraan.
Menurutnya, sebagai dasar membuat kebijakan untuk pencegahan terjadinya kecelakaan, semua stakeholder mulai dari pihak Jasa Marga sebagai operator jalan tol Cipularang, para pengguna hingga petugas lapangan serta patroli kepolisian perlu melakukan evaluasi lapangan.
Noviar mengungkapkan, menyalahkan secara langsung konstruksi jalan tol yang sudah dibangun sesuai standar internasional tersebut bukan merupakan solusi.
Kecelakaan demi kecelakaan di beberapa ruas tol Cipularang sebenarnya bukan misteri. Faktor penyebabnya bisa berasal dari ketidakdisiplinan pengguna, kendaraan, kondisi jalan dan kondisi lingkungan setempat, serta kombinasi di antara factor-faktor tersebut. Demikian tulis Atep Afia Hidayat di Kompasiana yang berjudul ‘Ada Misteri di Tol Cipularang.
beritatrans
Write a Comment